Jumat, 10 Mei 2013



Jaket Jeans terbaru dari toko online kami edisi 2013 berbagai merek dan warna dengan harga 325K.
bila anda berminat hub 085641886458

JAKET JEANS



Jaket Jeans terbaru dari toko online kami edisi 2013 berbagai merek dan warna dengan harga 325K.
bila anda berminat hub 085641886458

Senin, 22 April 2013

Celana jeans adalah jenis pakaian yang sering dipakai sehari-hari. Agar penampilan Anda maksimal, Anda perlu memilih jeans dengan cermat. Artinya, tak hanya memilih dari segi model yang sedang ngetren, atau yang sesuai bentuk tubuh Anda, tetapi juga dari segi bahannya. Enggak asyik kan, kalau jeans Anda bahannya keras dan kaku? Setelah itu Anda baru memilih detail lainnya. Berikut adalah hal-hal yang perlu Anda perhatikan saat memilih jeans:

Bahan. Denim umumnya dipakai lebih dari satu kali dalam seminggu dan punya sifat melebar setelah dipakai seharian. Karena itu carilah bahan denim yang pas di badan dan tidak mudah kusut agar denim tidak terlalu longgar ketika dipakai esoknya.

Bagian pinggang. Tempat ikat pinggang yang lebih lebar dapat membuat perut terlihat lebih ramping. Tetapi perhatikan agar jangan sampai terlalu lebar, agar bentuk perut Anda tidak sampai tertutup.

Pasak celana. Pasak celana (dari pinggang sampai bagian selangkangan) yang terlalu rendah dapat membuat jeans menjadi melorot atau turun. Pilihlah celana jeans yang pasak celananya terletak persis di bawah pusar.

Kemiringan. Kemiringan antara bagian belakang dan depan harus seimbang. Bagian belakang jeans tidak boleh terlalu naik sampai jauh di atas pinggang. Bagian depan juga tidak boleh terlalu jauh dari pusar. Ketidakseimbangan akan membuat bokong atau perut Anda terlalu besar.

Lebar celana. Celana yang sedikit lebar baik untuk semua bentuk tubuh. Potongan seperti ini akan menyeimbangkan tungkai secara keseluruhan.

Pencucian. Jeans juga akan mengembang setelah dicuci. Hindari terlalu banyak ornamen pada jeans Anda, terutama pada bagian yang justru tidak ingin dilihat orang. Misalnya manik-manik pada pinggang. Manik-manik itu akan membuat perhatian orang tertuju pada pinggang yang sudah terlihat sedikit membesar.

Kantong. Ukuran dan penempatannya akan mempengaruhi bentuk bokong Anda. Jika terlalu kecil dan berjauhan, akan membuat bokong Anda terlihat besar.

Sisi samping. Pastikan tidak terlalu melebar ke samping, karena akan membuat pinggul membesar.
Panjang. Biarkan lebih panjang dari kaki, karena berguna untuk membuat ilusi kaki lebih jenjang. Gunakan sepatu berhak dan blus berlengan cuff yang membuat penampilan lebih manis.

TIPS Memilih JEANS

Celana jeans adalah jenis pakaian yang sering dipakai sehari-hari. Agar penampilan Anda maksimal, Anda perlu memilih jeans dengan cermat. Artinya, tak hanya memilih dari segi model yang sedang ngetren, atau yang sesuai bentuk tubuh Anda, tetapi juga dari segi bahannya. Enggak asyik kan, kalau jeans Anda bahannya keras dan kaku? Setelah itu Anda baru memilih detail lainnya. Berikut adalah hal-hal yang perlu Anda perhatikan saat memilih jeans:

Bahan. Denim umumnya dipakai lebih dari satu kali dalam seminggu dan punya sifat melebar setelah dipakai seharian. Karena itu carilah bahan denim yang pas di badan dan tidak mudah kusut agar denim tidak terlalu longgar ketika dipakai esoknya.

Bagian pinggang. Tempat ikat pinggang yang lebih lebar dapat membuat perut terlihat lebih ramping. Tetapi perhatikan agar jangan sampai terlalu lebar, agar bentuk perut Anda tidak sampai tertutup.

Pasak celana. Pasak celana (dari pinggang sampai bagian selangkangan) yang terlalu rendah dapat membuat jeans menjadi melorot atau turun. Pilihlah celana jeans yang pasak celananya terletak persis di bawah pusar.

Kemiringan. Kemiringan antara bagian belakang dan depan harus seimbang. Bagian belakang jeans tidak boleh terlalu naik sampai jauh di atas pinggang. Bagian depan juga tidak boleh terlalu jauh dari pusar. Ketidakseimbangan akan membuat bokong atau perut Anda terlalu besar.

Lebar celana. Celana yang sedikit lebar baik untuk semua bentuk tubuh. Potongan seperti ini akan menyeimbangkan tungkai secara keseluruhan.

Pencucian. Jeans juga akan mengembang setelah dicuci. Hindari terlalu banyak ornamen pada jeans Anda, terutama pada bagian yang justru tidak ingin dilihat orang. Misalnya manik-manik pada pinggang. Manik-manik itu akan membuat perhatian orang tertuju pada pinggang yang sudah terlihat sedikit membesar.

Kantong. Ukuran dan penempatannya akan mempengaruhi bentuk bokong Anda. Jika terlalu kecil dan berjauhan, akan membuat bokong Anda terlihat besar.

Sisi samping. Pastikan tidak terlalu melebar ke samping, karena akan membuat pinggul membesar.
Panjang. Biarkan lebih panjang dari kaki, karena berguna untuk membuat ilusi kaki lebih jenjang. Gunakan sepatu berhak dan blus berlengan cuff yang membuat penampilan lebih manis.

Kamis, 21 Maret 2013


SEJARAH JEAN LEVIS

sejarah jeans levis
Pada tahun 1850-an pemuda berumur 21 tahun bernama Levi Strauss tiba di San Francisco, Amerika, dari Bavaria, Eropa, untuk mencoba peruntungannya, ia tidak menyadari bahwa dia sedang mulai membuat sebuah sejarah yang menjadi sumbangan terbesar Amerika untuk dunia mode sampai sekarang.

Strauss mencoba menjual tenda-tenda kanvas kepada para penggali tambang emas. Masa itu, Amerika memang sedang terkena demam emas. Bukannya tertarik pada tawaran Strauss, para penambang itu malah minta dibawakan celana panjang. Nama Levi's pun lahir ketika para penambang yang ketagihan celana Levi, mencari "those pants of Levi's" (celana si Levi) yang terbuat dari denim. Di Amerika, kata Levi's bersinonim dengan denim jins.

Kata jeans yang kini lekat dengan denim berasal dari peng-amerika-an kata bahasa Perancis Genes yang berarti Genoa, yaitu kota yang memproduksi celana denim di Italia, yang sebetulnya berasal dari Nimes di Perancis. Sedangkan istilah blue jeans muncul ketika Levi mencelup denimnya dengan warna indigo.

Telah lebih seabad setelah Levi memopulerkan celana jins. Kini denim tetap digemari bahkan naik kelas karena menjadi produk perancang terkenal dunia. Bahkan denim menjadi produk para perancang yang bekerja di Paris, kota yang mengutamakan keanggunan. Tentu saja denim mengalami masa-masa jatuh-bangun sebelum dia mendapatkan posisinya seperti saat ini.

Ada masa dia identik sebagai pakaian untuk pekerja kasar yang bekerja di luar ruang, karena memang denim yang semula terbuat dari katun ini memiliki ketahanan luar biasa menghadapi lingkungan yang keras.

Secara generik, denim adalah tenunan benang katun. Semula warna benangnya hanyalah putih dan biru yang asal-usulnya berasal dari sebuah kota di Perancis: Nimes yang menjadi asal kata denim yaitu serge de Nimes.

Pada tahun 1940-an denim sebenarnya sudah diolah menjadi produk mode dalam bentuk gaun, rok, jaket, dan celana panjang. Denim kemudian mencapai puncak popularitasnya pada tahun 1970-an ketika jins diproduksi massal.

Pada era tahun 1970-an ketika Barat dilanda "endemi" hippie, jins menjadi salah satu atribut yang melekat pada mereka, menjadi simbol pemberontakan terhadap kemapanan. Tidak jarang "para pemberontak" itu sengaja mengoyak-ngoyak celana jins mereka untuk mempertegas penolakan mereka pada kemapanan.

Mereka yang menganggap diri pengikut mode, pernah tidak tertarik pada jins. Jins lalu berkembang lebih sebagai baju untuk para pekerja kerah biru di Amerika. Jins bahkan kemudian identik dengan pakaian kerja para koboi ketika menggembala sapi mereka dari atas kuda mereka.

Perputaran roda mode akhirnya sampai pada suatu masa di mana ide dipungut dari mana saja, dari waktu kapan saja, lalu dirakit menjadi sebuah bentuk baru untuk orang masa kini. Percampuran atau eklektisisme ini mewarnai kehidupan masyarakat pascatahun 1970-an, tetapi sangat terasa pada dunia mode era 1990-an dan terus terjadi sampai kini.

Sebelum perancang memungut denim dari lemari pakaian kelas pekerja dan menjadikannya gemerlap sebagai produk perancang, para perancang telah lebih dulu mengambil gaya berbusana kelompok-kelompok tertentu seperti komunitas punk, komunitas peselancar, komunitas pejuga gaya gotik, dan sebagainya.

Kebangkitan denim sebagai produk perancang paling mencolok terjadi ketika pada tahun 1990-an Tom Ford dari rumah mode Gucci mengangkat jins sebagai fashion statement-nya.

Ford yang ketika itu menjadi perancang yang dikagumi karena kejeniusan rancangannya berhasil mengangkat pamor Gucci, menawarkan celana denim berwarna pudar yang koyak di banyak tempat. Tentu bukan Ford bila tidak membuat jins tersebut gemerlap, sehingga ia menambahkan hiasan bulu-bulu di bagian depan bawah celananya, menyulamkan mutiara dan payet sehingga jins tersebut pantas menyandang nama Gucci.

Madonna ikut mempulerkan kembalinya jins melalui tur dunianya awal tahun ini yang memakai tema koboi sebagai tema pakaian. Begitu pula penyanyi kondang seperti Britney Spears dan Shakira, mereka terlihat beberapa kali menggunakan denim dalam klip video musik mereka.

Bukan hanya Ford yang melihat peluang kembalinya jins seiring dengan perubahan suasana hati ke arah gaya yang lebih kasual terutama di kalangan kerah putih yang bekerja di bidang teknologi informasi di Amerika. Perancang lain pun berlomba-lomba mendesain ulang jins. Versace, Roberto Cavalli, Calvin Klein, Dolce dan Gabbana, dan Christian Dior, hanyalah beberapa nama besar di bisnis mode yang mencoba mengambil manfaat dari kembalinya jins. Bahkan John Galliano yang bekerja untuk rumah mode Christian Dior masih menggunakan denim dalam salah satu rancangan adibusana untuk musim gugur dan dingin 2002/2003.

Denim telah bertahan melalui dua kali pergantian abad.

Para perancang Indonesia juga tidak imun dengan perkembangan ini. Mereka menggunakan denim di dalam rancangan mereka. Mulai dari duet Era Soekamto dan Ichwan untuk label mereka Urban Crew yang ditujukan bagi mereka yang muda usia, sampai Ronald Very Gaghana. Carmanita pun memakai denim dalam rancangan tahun 2002-nya, sementara rumah mode Christian Dior sudah beberapa kali mengeluarkan denim untuk label siap pakai.

Ronald V Gaghana menawarkan cara penggunaan denim yang berbeda. Dia memadukannya dengan gaya romantis. Jaket denim berwarna coklat pasir itu dikoyak-koyak, tetapi dipadukan dengan rok sutera sifon yang lembut. Lalu masih dilunakkan lagi dengan penggunaan kalung mutiara yang memberi kesan mewah dan anggun. Itulah gaya eklektik yang menurut para pemikir postmodernisme menjadi salah satu ciri masyarakat pada era kapitalisme lanjut ini.

Dalam dunia nyata, di sini denim juga kembali ikut naik daun. Variasi model sangat beragam, mulai dari warna yang beragam, bergaya klasik, yang berpayet, hingga yang dibuat warnanya pudar sebagian dengan kontras yang tajam. Modelnya pun terus berganti-baggy, melebar di ujung pipa bawah, ketat membalut kaki, sebagai celana panjang, celana tiga perempat, hingga hotpants. Yang sekarang sedang digemari adalah hipster, celana denim yang dikenakan di pinggul. Apa pun variasi yang dilakukan, namun denim dalam warna biru indigo selalu diasosiasikan sebagai pakaian kasual.

Bukan hanya penampilan, kenyamanan mengenakannya pun bertambah dengan ditemukannya serat Lycra. Harga pun relatif terjangkau, mulai dari Rp 120.000 per celana, sementara celana jins dari perancang internasional di toko resmi harganya mulai dari 200 dollar AS. Dengan kata lain, denim sebagai produk generik bisa disebut sebagai pakaian yang paling egaliter karena semua orang mau memakai dan bisa memakai. Namun, ketika di dalamnya sudah masuk campur tangan para perancang, maka diferensiasi harga dan status pun terjadi. Itulah kekuatan sebuah citra produk. Dia akan mengontrol penontonnya mengikuti aturan-aturan yang dia tentukan.

SEJARAH JEAN LEVIS

sejarah jeans levis
Pada tahun 1850-an pemuda berumur 21 tahun bernama Levi Strauss tiba di San Francisco, Amerika, dari Bavaria, Eropa, untuk mencoba peruntungannya, ia tidak menyadari bahwa dia sedang mulai membuat sebuah sejarah yang menjadi sumbangan terbesar Amerika untuk dunia mode sampai sekarang.

Strauss mencoba menjual tenda-tenda kanvas kepada para penggali tambang emas. Masa itu, Amerika memang sedang terkena demam emas. Bukannya tertarik pada tawaran Strauss, para penambang itu malah minta dibawakan celana panjang. Nama Levi's pun lahir ketika para penambang yang ketagihan celana Levi, mencari "those pants of Levi's" (celana si Levi) yang terbuat dari denim. Di Amerika, kata Levi's bersinonim dengan denim jins.

Kata jeans yang kini lekat dengan denim berasal dari peng-amerika-an kata bahasa Perancis Genes yang berarti Genoa, yaitu kota yang memproduksi celana denim di Italia, yang sebetulnya berasal dari Nimes di Perancis. Sedangkan istilah blue jeans muncul ketika Levi mencelup denimnya dengan warna indigo.

Telah lebih seabad setelah Levi memopulerkan celana jins. Kini denim tetap digemari bahkan naik kelas karena menjadi produk perancang terkenal dunia. Bahkan denim menjadi produk para perancang yang bekerja di Paris, kota yang mengutamakan keanggunan. Tentu saja denim mengalami masa-masa jatuh-bangun sebelum dia mendapatkan posisinya seperti saat ini.

Ada masa dia identik sebagai pakaian untuk pekerja kasar yang bekerja di luar ruang, karena memang denim yang semula terbuat dari katun ini memiliki ketahanan luar biasa menghadapi lingkungan yang keras.

Secara generik, denim adalah tenunan benang katun. Semula warna benangnya hanyalah putih dan biru yang asal-usulnya berasal dari sebuah kota di Perancis: Nimes yang menjadi asal kata denim yaitu serge de Nimes.

Pada tahun 1940-an denim sebenarnya sudah diolah menjadi produk mode dalam bentuk gaun, rok, jaket, dan celana panjang. Denim kemudian mencapai puncak popularitasnya pada tahun 1970-an ketika jins diproduksi massal.

Pada era tahun 1970-an ketika Barat dilanda "endemi" hippie, jins menjadi salah satu atribut yang melekat pada mereka, menjadi simbol pemberontakan terhadap kemapanan. Tidak jarang "para pemberontak" itu sengaja mengoyak-ngoyak celana jins mereka untuk mempertegas penolakan mereka pada kemapanan.

Mereka yang menganggap diri pengikut mode, pernah tidak tertarik pada jins. Jins lalu berkembang lebih sebagai baju untuk para pekerja kerah biru di Amerika. Jins bahkan kemudian identik dengan pakaian kerja para koboi ketika menggembala sapi mereka dari atas kuda mereka.

Perputaran roda mode akhirnya sampai pada suatu masa di mana ide dipungut dari mana saja, dari waktu kapan saja, lalu dirakit menjadi sebuah bentuk baru untuk orang masa kini. Percampuran atau eklektisisme ini mewarnai kehidupan masyarakat pascatahun 1970-an, tetapi sangat terasa pada dunia mode era 1990-an dan terus terjadi sampai kini.

Sebelum perancang memungut denim dari lemari pakaian kelas pekerja dan menjadikannya gemerlap sebagai produk perancang, para perancang telah lebih dulu mengambil gaya berbusana kelompok-kelompok tertentu seperti komunitas punk, komunitas peselancar, komunitas pejuga gaya gotik, dan sebagainya.

Kebangkitan denim sebagai produk perancang paling mencolok terjadi ketika pada tahun 1990-an Tom Ford dari rumah mode Gucci mengangkat jins sebagai fashion statement-nya.

Ford yang ketika itu menjadi perancang yang dikagumi karena kejeniusan rancangannya berhasil mengangkat pamor Gucci, menawarkan celana denim berwarna pudar yang koyak di banyak tempat. Tentu bukan Ford bila tidak membuat jins tersebut gemerlap, sehingga ia menambahkan hiasan bulu-bulu di bagian depan bawah celananya, menyulamkan mutiara dan payet sehingga jins tersebut pantas menyandang nama Gucci.

Madonna ikut mempulerkan kembalinya jins melalui tur dunianya awal tahun ini yang memakai tema koboi sebagai tema pakaian. Begitu pula penyanyi kondang seperti Britney Spears dan Shakira, mereka terlihat beberapa kali menggunakan denim dalam klip video musik mereka.

Bukan hanya Ford yang melihat peluang kembalinya jins seiring dengan perubahan suasana hati ke arah gaya yang lebih kasual terutama di kalangan kerah putih yang bekerja di bidang teknologi informasi di Amerika. Perancang lain pun berlomba-lomba mendesain ulang jins. Versace, Roberto Cavalli, Calvin Klein, Dolce dan Gabbana, dan Christian Dior, hanyalah beberapa nama besar di bisnis mode yang mencoba mengambil manfaat dari kembalinya jins. Bahkan John Galliano yang bekerja untuk rumah mode Christian Dior masih menggunakan denim dalam salah satu rancangan adibusana untuk musim gugur dan dingin 2002/2003.

Denim telah bertahan melalui dua kali pergantian abad.

Para perancang Indonesia juga tidak imun dengan perkembangan ini. Mereka menggunakan denim di dalam rancangan mereka. Mulai dari duet Era Soekamto dan Ichwan untuk label mereka Urban Crew yang ditujukan bagi mereka yang muda usia, sampai Ronald Very Gaghana. Carmanita pun memakai denim dalam rancangan tahun 2002-nya, sementara rumah mode Christian Dior sudah beberapa kali mengeluarkan denim untuk label siap pakai.

Ronald V Gaghana menawarkan cara penggunaan denim yang berbeda. Dia memadukannya dengan gaya romantis. Jaket denim berwarna coklat pasir itu dikoyak-koyak, tetapi dipadukan dengan rok sutera sifon yang lembut. Lalu masih dilunakkan lagi dengan penggunaan kalung mutiara yang memberi kesan mewah dan anggun. Itulah gaya eklektik yang menurut para pemikir postmodernisme menjadi salah satu ciri masyarakat pada era kapitalisme lanjut ini.

Dalam dunia nyata, di sini denim juga kembali ikut naik daun. Variasi model sangat beragam, mulai dari warna yang beragam, bergaya klasik, yang berpayet, hingga yang dibuat warnanya pudar sebagian dengan kontras yang tajam. Modelnya pun terus berganti-baggy, melebar di ujung pipa bawah, ketat membalut kaki, sebagai celana panjang, celana tiga perempat, hingga hotpants. Yang sekarang sedang digemari adalah hipster, celana denim yang dikenakan di pinggul. Apa pun variasi yang dilakukan, namun denim dalam warna biru indigo selalu diasosiasikan sebagai pakaian kasual.

Bukan hanya penampilan, kenyamanan mengenakannya pun bertambah dengan ditemukannya serat Lycra. Harga pun relatif terjangkau, mulai dari Rp 120.000 per celana, sementara celana jins dari perancang internasional di toko resmi harganya mulai dari 200 dollar AS. Dengan kata lain, denim sebagai produk generik bisa disebut sebagai pakaian yang paling egaliter karena semua orang mau memakai dan bisa memakai. Namun, ketika di dalamnya sudah masuk campur tangan para perancang, maka diferensiasi harga dan status pun terjadi. Itulah kekuatan sebuah citra produk. Dia akan mengontrol penontonnya mengikuti aturan-aturan yang dia tentukan.

LEVI'S

Ini produk terbaru dari kami dengan harga terjangkau 165k bila anda berminat hub 085641886458
ongkir GRATIS


LEVI'S

Ini produk terbaru dari kami dengan harga terjangkau 165k bila anda berminat hub 085641886458
ongkir GRATIS

Kamis, 14 Maret 2013

Kami jual berbagai merek Jeans 




Kami menjual berbagai merek jeans dengan kualitas import yang sering dipakai artis-artis terkenal di luar negeri ini merek-merek yang kami jual :


-LEVIS -SCERT CIRCUS -ESCADA -ROBET CAVALLI


Harga terjangkau berkisaran 150k  sampai 250k
Bila berminat hub 085641886458
ongkir GRATIS

SELAMAT MEMESAN


jeans terbaru

Kami jual berbagai merek Jeans 




Kami menjual berbagai merek jeans dengan kualitas import yang sering dipakai artis-artis terkenal di luar negeri ini merek-merek yang kami jual :


-LEVIS -SCERT CIRCUS -ESCADA -ROBET CAVALLI


Harga terjangkau berkisaran 150k  sampai 250k
Bila berminat hub 085641886458
ongkir GRATIS

SELAMAT MEMESAN